Rabu, 16 Maret 2016

ENY SULISTYOWATI : INDONESIA SEDANG KRISIS TRADISI

Bismillahirrahmaanirrahiim.. Assalamu 'alaikum wr. wb.

"Saat ini kita sedang mengalami Krisis Tradisi," Demikian pernyataan Eny Sulistyowati, SPd, SE seorang Seniman Penata Tari, Budayawati, Pengusaha dan Penyelenggara Event "World Dance Day 20016" (Hari Tari se-Dunia 2016) yang sudah melanglang buana ke berbagai negeri untuk membawa Kesenian Tradisional Indonesia. 


Eny Sulistyowati, SPd, SE. Seniman & Pengusaha. 
Selalu menjadi duta Indonesia di manca negara.

"Krisis Tradisi ini yang saya maksudkan adalah, ambiguitas masyarakat dalam menerima dan mengembangkan kesenian tradisional. Ketika kami membawa Kesenian Tradisional ke Manca Negara, kami mendapati bahwa justru di luar negeri yang nota bene adalah tempat lahir dan berkembangnya budaya Pop, namun masyarakat nya sangat menerima Seni Tradisional Indonesia yang kami bawa. Hal ini berbanding terbalik ketika kita mementaskan Hal yang sama di negeri sendiri. Pementasan Tari Tradisional pasti sepi penonton, Pementasan Wayang Orang pasti jarang yang minat. Saya cuma takut, ketika Kesenian Tradisional, nantinya di klaim sebagai milik Negara lain, nah baru saat itu kita seperti orang kebakaran jenggot." Tutur Eny Sulistyowati mengutarakan ke khawatirannya.

Di temui dalam Kongkow Budaya bersama rekan-rekan wartawan FORWAN (Forum Wartawan Hiburan) Indonesia di Anjungan Daerah Istimewa Jogjakarta, Senin, 14 Maret 2016, Eny nampak bersemangat mengutarakan gagasan-nya. "Masyarakat, utamanya kaum muda saat ini, cenderung berpihak kepada budaya Pop tinimbang budaya lokal seperti Seni Tradisional. Saya tidak ingin mengatakan itu salah mereka, namun hendaknya kita sebagai putra putri sebuah negeri yang kaya akan budaya lokal ini, lebih memilih dan seharusnya mengembangkan budaya lokal yang jumlahnya ribuan ini untuk dijadikan komoditi dan sumber penghasilan masyarakat itu sendiri. Ini kan potensi pariwisata yang sangat hebat."

"Saat ini terjadi Euforia Kultur Global, ditandai dengan membanjirnya produk telekomunikasi elektronik, inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya pergeseran nilai serta berlangsungnya transformasi sosial budaya pada masyarakat seluruh dunia. Nah ini harus disikapi dengan arif dan sejogjanya dijadikan media untuk mengembangkan kebudayaan lokal. Sebab kalau kita terjebak kepada euforia kulutr global ini tanpa mengindahkan budaya lokal tradisional, niscaya kita akan kehilangan akar budaya yang kaya dan beragam." Demikian dituturkan Seniman Pengusaha dan Penyelenggara Hari Tari se-Dunia ini

"Oleh karena nya kami tengah menyiapkan suatu Pagelaran Tari Kolosal dalam rangka World Dance Day (Hari Tari se-Dunia) 2016 yang akan kami selenggarakan pada tanggal 28 dan 29 April 2016 di Solo. Ini adalah Penyelenggaraan yang ke 10." Ungkap Eny lagi.

"Saya kepingin-nya, ada Management Produksi dan Management Pemasaran yang baik terhadap Kesenian Tradisional ini. Hal ini tentu membutuhkan dukungan dan 'good will' dari semua pihak, terutama Pemerintah dan Media Massa supaya, minimal ada 'balance'-lah kalau tidak mau dibilang bahwa kita ini sedang 'di-nina bobokan' oleh budaya global. Jangan ambigu dan mempunyai standar ganda terhadap budaya kita sendiri." Pungkas Eny Sulistyowati sambil tersenyum.

Bersambung . . .

(Simak terus ceritaselebriti.top Dalam Rangka Hari Tari se-Dunia 2016)